PLNWatch.WAHANANEWS.CO - Ketua Umum PLN Watch, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa beroperasinya 60 pembangkit baru dengan total kapasitas 16,5 gigawatt (GW) dalam lima tahun terakhir menjadi bukti nyata keberhasilan transformasi PLN.
Menurut Tohom, capaian tersebut tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Ia menilai, kehadiran puluhan pembangkit baru itu telah memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional.
Selain meningkatkan cadangan daya, pembangunan tersebut juga mendukung kebutuhan energi masyarakat dan dunia usaha di berbagai wilayah Indonesia.
Tohom yang juga Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mengatakan, pembangunan pembangkit tidak berdiri sendiri.
Baca Juga:
PLN WATCH: 60 Pembangkit Baru Berkapasitas 16,5 GW Bukti Transformasi PLN di Bawah Darmawan Prasodjo
Menurutnya, langkah itu juga dibarengi dengan penguatan jaringan transmisi, gardu induk, serta transformasi digital di tubuh PLN.
Kombinasi tersebut dinilai telah membuat sistem kelistrikan nasional semakin andal dan efisien.
Tohom menyebut, transformasi PLN tidak hanya berhenti pada perbaikan tata kelola perusahaan.
Lebih dari itu, transformasi tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Fakta bahwa 60 pembangkit baru telah beroperasi dengan kapasitas total 16,5 GW sudah cukup menjawab berbagai narasi yang menyebut tidak ada pembangunan pembangkit," ujar Tohom.
Ia menegaskan, penilaian terhadap kinerja sektor kelistrikan nasional harus didasarkan pada data dan fakta.
Menurutnya, pembangunan yang dilakukan PLN bukan sekadar menghadirkan aset fisik.
"Yang dibangun bukan hanya aset fisik, tetapi juga fondasi ketahanan energi Indonesia untuk jangka panjang," katanya.
Tohom yang baru-baru ini mengikuti Plenary Meeting International ISO COPOLCO di Hainan, China, menilai anggapan seolah tidak ada pembangunan pembangkit selama masa kepemimpinan Darmawan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir PLN telah mengoperasikan dan meresmikan berbagai proyek ketenagalistrikan strategis.
Proyek-proyek tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pada Januari 2025, Presiden Prabowo meresmikan langsung Pembangkit Listrik Tenaga Air Jatigede di Sumedang, Jawa Barat.
Pembangkit tersebut memiliki kapasitas 2x55 MW.
Peresmian itu juga dilakukan bersamaan dengan 26 pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) lainnya.
Selain itu, Indonesia juga memiliki PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat.
Pembangkit tersebut menjadi salah satu kebanggaan nasional karena tercatat sebagai pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar di Asia Tenggara.
Menurut Tohom, kehadiran berbagai infrastruktur tersebut menunjukkan komitmen PLN dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Di saat yang sama, PLN juga dinilai terus mendorong percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Tohom yang juga Ketua Umum Relawan Martabat Prabowo Gibran menambahkan, listrik yang andal telah menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Akses energi yang semakin baik membuka peluang berkembangnya usaha mikro, sektor pertanian, perikanan, perdagangan, hingga industri kecil.
Sektor-sektor tersebut selama ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
"Menambah kapasitas pembangkit sebesar 16,5 gigawatt bukan pekerjaan kecil," tegas Tohom.
Ia menyebut, capaian tersebut merupakan kontribusi nyata untuk memperkuat cadangan daya dan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan nasional.
Dengan tambahan kapasitas itu, kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha juga dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Tohom menambahkan, keberhasilan transformasi PLN juga terlihat dari semakin luasnya akses listrik hingga ke pelosok negeri.
Menurutnya, jutaan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) kini dapat menikmati layanan listrik yang lebih andal dibandingkan sebelumnya.
Ia menilai, manfaat pembangunan ketenagalistrikan tidak hanya bisa dilihat dari angka kapasitas pembangkit atau panjang jaringan.
Dampak paling nyata justru terlihat dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat.
"Jutaan warga di wilayah 3T yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses listrik kini dapat memanfaatkan listrik untuk membuka usaha," ujarnya.
Listrik juga dinilai membantu masyarakat meningkatkan produktivitas, mendukung kegiatan pendidikan, hingga memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik.
Selain pembangunan infrastruktur fisik, Tohom juga mengapresiasi transformasi digital yang dijalankan PLN.
Digitalisasi pada sektor pembangkitan, transmisi, distribusi, hingga layanan pelanggan dinilai telah meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Menurutnya, digitalisasi juga mempercepat respons PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
"Pak Darmawan tidak hanya membangun pembangkit, jaringan, dan gardu induk," kata Tohom.
Ia menilai, Darmawan juga membangun sistem dan budaya kerja baru di tubuh PLN.
Budaya kerja tersebut membuat PLN menjadi lebih modern, transparan, efisien, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
"Transformasi digital yang dilakukan telah menjadi game changer bagi pengelolaan sistem kelistrikan nasional," lanjutnya.
PLN Watch menilai berbagai capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mewujudkan ketahanan energi nasional.
Capaian itu juga dinilai mendukung pertumbuhan ekonomi serta mempercepat agenda transisi energi.
Berbagai infrastruktur ketenagalistrikan yang telah beroperasi tidak hanya memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Lebih dari itu, infrastruktur tersebut juga menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia usaha.
Tohom menegaskan, di tengah berbagai tantangan sektor energi, penilaian terhadap PLN harus dilakukan secara objektif.
Menurutnya, penilaian itu perlu didasarkan pada capaian nyata yang telah dirasakan masyarakat.
"Transformasi PLN telah menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Tohom.
Ia mengatakan, transformasi tersebut memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional, mendukung pertumbuhan ekonomi, sekaligus mempercepat transisi energi.
"Capaian seperti ini patut diapresiasi sebagai keberhasilan institusi dan keberhasilan bangsa," pungkas Tohom yang juga Ketua BPPH Pemuda Pancasila Pusat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]