PLNWatch.WAHANANEWS.CO - Di sebuah sudut Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, cerita tentang sampah kini berubah arah. Jika dulu sampah plastik kerap berakhir di aliran sungai, kini justru menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
Transformasi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui pendampingan berkelanjutan dari PT PLN Electricity Services (PLN ES) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Baca Juga:
Tragis! Ayah di AS Tembak Mati 8 Anak, 7 di Antaranya Anak Kandung
Program yang dimulai sejak 2024 ini menyasar Bank Sampah Kampung Tape (KATA), yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan. Sampah anorganik dianggap tidak memiliki nilai ekonomis, sehingga masyarakat sekitar masih membuang sampah di bantaran sungai.
Di sisi lain, fasilitas pengolahan sampah belum memadai, sehingga nilai ekonomi dari sampah plastik belum memberikan manfaat ekonomi yang optimal.
Namun, perubahan mulai terasa sejak PLN ES hadir tidak hanya dengan bantuan fisik, tetapi juga pendampingan berkelanjutan, menyadarkan masyarakat bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi sumber nilai ekonomi.
Baca Juga:
Sunday Scaries Bukan Sekadar Malas Senin, Ini Dampaknya bagi Mental
Pada tahap awal, PLN ES melakukan pendampingan bank sampah KATA, dimana ini menjadi pondasi awal untuk keberlanjutan bank sampah.
Selain itu, PLN ES juga membangun gudang, penyediaan alat pengolahan sampah plastik dan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang terstruktur dan produktif.
Memasuki tahap kedua di tahun 2025, PLN ES kembali memperkuat dukungannya melalui bantuan peralatan pengolahan sampah plastik dan gerobak sampah listrik modern, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperluas cakupan wilayah bank sampah, sehingga ekosistem ramah lingkungan berbasis elektrifikasi lebih dikenal di kabupaten Malang.