Menurutnya, keandalan listrik nasional jangan hanya dilihat dari sisi kapasitas pembangkit, tetapi juga dari kualitas jaringan transmisi, gardu induk, sistem proteksi, material, konstruksi, hingga standar keselamatan pengguna listrik.
Tohom mengatakan, pengalaman blackout di Sumatera harus menjadi pelajaran penting bahwa sistem kelistrikan nasional membutuhkan budaya standardisasi yang lebih kuat dan konsisten.
Baca Juga:
PLN Watch Sambut Kepemimpinan Baru PLN, Dorong Penguatan Standardisasi dan Perlindungan Konsumen
“Blackout Sumatera harus menjadi pengingat bahwa standardisasi bukan urusan teknis biasa, tetapi bagian dari perlindungan konsumen, keselamatan publik, dan ketahanan nasional,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mendorong jajaran Direksi dan Komisaris PLN yang baru untuk menjadikan standardisasi kelistrikan sebagai agenda prioritas dalam setiap pembangunan infrastruktur.
Ia berpandangan, investasi pada standardisasi material, konstruksi, sistem proteksi, dan modernisasi jaringan akan jauh lebih murah dibandingkan kerugian besar yang timbul ketika sistem kelistrikan mengalami gangguan berskala luas.
Baca Juga:
PLN Watch Ucapkan Selamat Bekerja, Dorong Direksi dan Komisaris Baru Perkuat Transformasi PLN
Menurut Tohom, listrik saat ini telah menjadi tulang punggung ekonomi digital, layanan publik, industri, perbankan, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas rumah tangga.
Karena itu, setiap gangguan besar terhadap pasokan listrik dapat menimbulkan efek domino yang luas terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan masyarakat.
“Ketika listrik padam secara luas, yang terganggu bukan hanya lampu rumah warga, tetapi juga transaksi ekonomi, sistem komunikasi, layanan kesehatan, logistik, dan rasa aman masyarakat,” ujar Tohom.